ku tau dunia ini tak abadi,
ku tau hidup ini akan mati,
ku tau waktu kan berhenti,
dan ku tau cinta itu akan hina,
ku tau sayang itu akan hilang,
ku tau semua keindahan adalah jurang yang mencekam,
ku tau kau tak bisa lupakan,
ku tau kau akan menjerit kesakitan,
ku tau kau akan sadar, ku tau walau kau tak tau,
bahwa ku tak bisa lupakan dan kau tak bisa menghindar,
bagaimana masa lalu dan masa depan, kau akan selalu bersamaku, abadi dihtiku,
dengan kenangan, kesedihan dan ketulusan. . .
Rabu, 03 November 2010
untukku dan untukmu
Selasa, 26 Oktober 2010
Tak Selamanya
kenyataan tak seindah khayalan, seperti bulan yang tak selamanya bersinar, indah tapi menyakitkan, bila hanya ada sedikit harapan yang dirasakan, hangat bila pelukanmu membungkus tulang dingin yang menckam, tapi kehangatan itu seakan hilang saat pengkhianatan menusukku dari belakang,
Tak ingin pikirkan apa yang telah membuat geram,
Semuanya tlah berhenti, dan tak ingin ku membuatmu merasa indah d dunia ini,
Ingin ku terlepas dari bayang semu, yang membuat hitam duniaku. . .
Semua tlah terjadi...
Selasa, 03 Maret 2009
Renung
Merenung jelmaan seluruh...
Semarau paling rantau
Minang dalam kuda
Resah dalam tekak
Mungkin sejenak
Dunia kenangan...
Khayal berlaku...
Mendera...
Mahligai...
Menahan rasukan jiwa
Melama...
Senyawa hilang dalam durja
Senin, 02 Maret 2009
Karma
Mendarat karma dalam senyap
Sayutan dalam renungan
Meraup indah sayutan
Terkikis jiwa dalam sengatan
Mungkin...
Dalam durma yang hina
Tiada kata suratan karma
Terpetik rona pelopor rasa
Andaikan...
Bunga berarak kini terhangat
Menghias lampu dirhana biru
Menjelma karam dalam lautan
Sejenak terimbas guratan sukma
Andaikan...
Berlalu dalam dendang parau
Palu teringat mendayu senyap
Mendera siksa...
Berduaja sukma
Melambai rasa
Dalam dada...
Dalam rasa
Tetap dalam dada rasa...
Sabtu, 28 Februari 2009
Kedudukan Bahasa
Jika kita melihat penggunaan bahasa di dunia, hanya 96 persen dari bahasa yang ada di dunia dituturkan hanya 4 persennya saja oleh penduduk dunia. Inilah fakta yang disurvei oleh Institute of Linguistics, 1999. Dari sekitar 6.000 lebih jumlah bahasa di dunia, ada sekitar 5.000 bahasa yang dituturkan kurang dari 100.000 orang. Pihak internasional sendiri merespons keprihatinan terhadap bahasa yang terancam punah. Sekitar satu bahasa yang punah, setiap dua minggu. Sungguh sangat ironis, bahasa yang merupakan pewarisan budaya yang begitu penting.
Bahasa yang dikhawatirkan terancam punah adalah bahasa yang mempunyai kedudukan sebagai bahasa minor. Kedudukan bahasa minor ataupun mayor biasa diukur dari kekuatan bahasa itu sendiri. Sebagai contoh bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris. Justru bahasa kita sendiri yang merupakan bahasa minor. Dan bahasa Inggris ditempatkan sebagai bahasa mayor. Bahasa minor merupakan subordinasi bahasa mayor yang memiliki kekuatan bahasa yang memiliki kekuatan bahasa lebih kuat. Bahasa Indonesia kini mendapatkan tekanan serius dari bahasa asing, seperti bahasa Jepang, Mandarin, terutama dari bahasa Inggris yang dianggap mempunyai prestise tersendiri. Dan jika melihat kejadian di masyarakat kita sendiri bahasa daerah yang mendapat tekanan serius dari bahasa Indonesia. Mempertahankan bahasa pertama atau bahasa ibu merupakan tanggung jawab diri kita sendiri. Jangan sampai bahasa ibu lambat laun akan pudar dalam diri kita. Mentransmisikan bahasa ibu kepada keturunan kita selanjutnya bisa dimulai dari lingkungan keluarga. Ini sangat efektif untuk menjaga kelestarian bahasa ibu. Gengsinya bahasa mayor yang mempengaruhi gaya berbahasa orang-orang kini mencerminkan bahwa orang tersebut lupa akan jati diri yang telah ada karena bahasa ibu tersebut. Punahnya suatu bahasa merupakan punahnya jati diri kita sendiri.
Senin, 12 Januari 2009
Cinta Sejati, adalah Cinta-Mu
Cinta kadang tak dibutuhkan dalam hidup ini
Terluka karnanya seakan kehilangan semuanya
Ini adalah sebuah siksaan batin
Dan penyiksaan diri sendiri
Sejak masih tanah ,dibuat dengan sentuhan cinta
Tapi kenapa cinta yang dirasakan selama ini begitu menyakitkan?
Membuat dunia ini seakan abadi?
Saat dikhianati cinta, semua yang abadi hilang ditelan duka
Sebenarnya kita tak merasakan cinta yang sesungguhnya
Cinta dari Sang Pencipta
Cinta yang kita duakan dengan cinta berhala
Aku rindu akan cinta-Mu, ya Allah...
Melupakan-Mu dengan kefanaan dunia ini
Dosa besar telah kulakukan, Tuhan...aku menduakan-Mu
Bodohnya diri ini, tak bersyukur cinta yang t'lah Kau berikan kepadaku
Cinta sejati tak perlu dicari
Aku sadar, Kau lah cinta sejati dan Kekasih hati
Aku benar-benar rindu padamu
Kapan aku bertemu dengan-Mu ya Allah?
Hanya dengan ibadah ku merasa lebih dekat dengan-Mu
Maafkan dosa-dosa ku..
Maafkan segala perbuatan keji ku..dan kadang melupakan-Mu
Aku tak ingin pada saat kita bertemu, aku penuh dengan balutan dosa
Ya Allah... Lindungilah hamba-Mu ini
Tunjukilah jalan yang lurus menuju surga-Mu
Cinta sejati hanyalah kepada Allah, Sang Pencipta
Tak akan kita rasakan lagi terluka oleh cinta
Cinta ini tulus
Cinta ini abadi
Cinta ini sejati
Ya Allah, Tuhan ku...trima kasih akan cinta-Mu dan tetaplah mencintaiku
Aku juga akan selalu mencintaimu, jauh di dasar hati, sampai aku di ambil kembali oleh-Mu
Dengan cinta-Mu membuat hidup ini lebih indah...
Rabu, 31 Desember 2008
Dari jembatan ke jembatan
Dari jembatan ke jembatan aku mengenalimu
Memahami pohon sebagai teduh para pejalan
Dan sungai-sungai terus merangkai larik sajak
Dari sebagian senja yang terendam kampung
Disini hujan seperti bayangan kanak-kanakku
Setiap guguran adalah mimpi yang baru mulai
Menjadikannya musim tanam bagi perjalanan
Demikianlah, semua bebas menyimpan hujan
Dari jembatan ke jembatan aku kembali ingat
Mengamati nama-nama yang sempat lewat
Aku pun suka membincang usia di perbatasan
Ketahuilah olehmu tentang satu ketakutanku
Adalah dimana aku mulai merindukanmu
Am, 2008
Rabu, 26 November 2008
"Potret Negriku"
63 Tahun lalu...
Seja diucap ikrar dalam sayu
Benang benalu di putus dalam kaku
Getir berlalu genting melayang
Tapi usang tak jua reda
Kita memang tlah tinggalkan benalu
Namun tuan tak lihat kami malu
Kami malu membaca buku sejarah
Kami malu akan dunia kelam tanam di jiwa
Kapan tuan berjibaku?
Kapan?
Kami lapar...
Kami lapar akan duaja!
Tuan tak melihat
Tak pernah melihat
Kami terbebas
Dalam dinding berkurung waktu
Dengan lakonan dirma siksa
63 tahun yang lalu...
Suara tengak memang tiada
Tapi jerit hati membanjiri
Tuanku...
Daku menunggumu...
Menunggu sumpah serapah yang kau bina
Tapi...
Seolah tuan lupa dimana katedral kau terlupa
Mengapa tuan?
63 tahun yang lalu...
Seakan abadi dalam diri
Terjaga dalam dada
63 tahun yang lalu...
Tetap 63 tahun yang lalu...
Loading...